Ngerti ngak maksud tu judul??
Ngerti??
Ha. Hebat.
Apa?? Ngak ngerti??
Itu yang lebih hebat. Hahahaha.
Kenapa??
Yang ngerti itu sok ngerti. Ku suka yang ngak ngerti, karna diriku sebenarnya juga ngak ngerti. Hahahahahaha
Tapi, mulai dari sini aku mengerti.
Judul itu singkatan dari Lebaran Payakumbuh Piaman Padang. Setuju???
Setuju tidak setuju, terserah. Bagiku itu mantap. Seperti kata Yudi, pas soe soe nya. Hahaha. Mag dal ena bro!!!
Berbeda. Lebaran di 3 kota itu sangatlah berbeda. Ngak percaya?? Coba aja!! Dijamin. Manyasa sudah tu mah. Hahahaha
Ndak gai doh. Sero. Apo lai kalau sedang rayo. Nampak kualitas masing2 daerah tu.
Bercerita tentang kota Payakumbuh. Sejak pertama dilahirkan aku selalu berlebaran di kota ini. Percaya atau tidak. Tapi seingatku iya. Itulah sebabnya aku dibilang teman2 sebagai urang payokumbuah.
Lebaran di sini bagiku tak asing lagi. Seperti biasa. Tentu wah lah. Payakumbuh mah. No1 lah. Apalagi semenjak sudah adanya plaza di tengah kota. Batambah wah lai nyo.
Suasana lebaran di kota ini sama halnya dengan kota2 besar yang ada di Indonesia. Wajar saja salah satu statiun TV Indonesia tertarik untuk meliput suasana lebaran di kota ini. Dialah Metro TV. Bayangkan, se Indonesia orang tau. Hahahahaha
Lebaran ketiga aku ke Piaman. Daerah ini merupakan tempat kelahiran ayah ku. Jadi, mau tak mau tiap lebaran juga mesti kesini.
Lebaran di sini gimana yah. Mungkin aku sudah hari ketiga ke sini. Jadinya terlihat sepi. Di sini kerjaku hanya bersilaturrahmi ke rumah famili ayahku. Tak ada yang lain. Ingin bersilaturrahmi ke rumah teman yang ada di Piaman, tapi ketika dihubungi mereka malah menjawabnya disaat matahari mau terbenam. Lah pai malauik urang situ mah. Maleh se lai.
Andalan kota ini cuma Pantai. Setiap orang di sini menyuruhku ke pantai. “Lah ka Pasia ang yuang??” Kenapa sih??
Akhirnya ku pergi ke sana. Ya Allah. Rami nyo umaik lai. Apo nan dicaliak siko goh??
Kusempatkan berkenalan dengan orang di sana. Kubertanya, “Rami taruih se urang di siko diak??” Dia menjawab, “Ndak doh bang, 2 kali se mode iko nyo. Rayo ciek, tu Tabuik ciek lai. Salain tu, mode iduik sagan mati tak namuah.” Ciek lai, iko rami dek urang lua se mah bang. Urang Piaman ndak bara gai doh ko.
Piaman, Piaman. Seperti itukah dirimu??? Bolehlah.
Sore hari keempat, ku sempatkan berkunjung ke kota Padang. Sampai di Padang hari mulai gelap. Sebenarnya Padang ini juga kampungku. Tepatnya kampung ibuku. Tapi keluarga ibu sudah hijrah semua ke Payakumbuh. Jadi di sini tinggal rumah kosong saja.
Awalnya tujuan ke Padang hari ini hanya untuk mengunjungi salah satu pamanku. Jadi, arah lansung tertuju pada rumahnya. Sampai di sana, rupanya yang ku dapat hanyalah rumah kosong tanpa penghuni. Dia berlebaran juga rupanya. Biarlah. Tak apa.
Aku teringat Pendi. Ku ajak keluargaku berkunjung ke rumahnya. Yah..akhirnya kami ke sana. Lama di sana. Keluargaku tampak bahagia.
Pendi bercerita. “Oiiii...da ipul dek ang, sampai sajuta pitih masuaknyo samalam” Rami urang di taplau.
Haaa. Rami tuh??
Iyo. Malam tadi se sampai jam 12 malam den kawanan nyo manggaleh. Ndak takao2 nyo malayani do.
Pertanyaan muncul dipikiranku. “Kata orang Padang ini penduduknya pendatang semua. Yang kutau kalau daerah ini isinya pendatang, semua akan pulang ke kampung halaman.” Tapi kok??
Oh ya. Ini lebaran ke 4. Ku yakin itu orang yang datang dari luar juga. Pendi mengatakan juga demikian. “Urang lua se sadonyo dek ang”
Okeh lah. Mantap juga lah Padang. Hahahahaha
Tulisan ini dibuat berdasarkan fakta dilapangan. Bukan bermaksud SARA tapi bermaksud cerita semata. Untuk sekedar info gitu!!!
Bagi yang daerahnya belum di ekspos. Sabar dulu ya!! Wah2 an lah daerah tu luh.
Pesan buat anak2 batu sangka. Rayo kaanam bisuak, wak kaberkunjung ka situ. Manyilau2. Siip a. Berbenah lah dulu. Kok ingin di ekspos lo eh. Hahahaha
Senin, 14 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar