Pagi....akan kah kau datang. Berulang-ulang ku sebut kata ini dalam hati. Aku tak kuat lagi merasakan
kondisi ini. Alam tak bersahabat lagi.
Saat itu tanggal 27 Desember 2008, di puncak Gunung Singgalang, tepian Telaga Dewi.
Seperti kata orang. Tempat itu indah. Semua usaha yang dilakukan untuk mencapainya pasti tak kan sia sia.
Semua di bayar lunas. Namun aku tak memperolehnya. Yang ku dapatkan hanyalah kabut tebal disertai badai
yang mengamuk entah kenapa. Buas..liar..mencekik tulang-belulang ku..
Bersama 5 orang temanku (Ganto, Wahyu, Abdi, Fathan, Rasid), kami mencapainya kira2 pukul 6 sore menjelang maghrib.
Perjalanan yang dikatakan lama karena kami memulainya pukul 9 pagi. Tapi, kami nikmati.
Aku pun menikmati. Into the wild. hehe.. Tapi, karena begitu lama, timbul keraguan dihati ini.
Apakah aku tersesat. Namun aku hanya diam..meneruskan perjalanan dan selalu berkata..."tunggu tungguuuuu".
Karena saat itu aku mengambil posisi paling belakang barisan. Perjalanan yang begitu indah untuk dikenang.
Kembali kepada keadaan di puncak.
Aku penasaran. Aku tak dapat menyaksikan indahnya Telaga Dewi. Kabut begitu tebal. Aku hanya bisa mendengar suara alam
yang begitu ganas. Pepohonan seakan berkoalisi bersama angin dan hujan untuk menakutiku. Namun, bagiku ini indah. Tak pernah
aku mengalaminya. Namun, aku pun berharap kondisi ini dapat berubah. Aku mencintai mu...kenapa kau tak mencintaiku saat ini. Atau
beginikah caramu mencintai ku. Tubuhku bergetar. Dingin sekali.
Hari makin gelap. Ganto berinisiatif lansung untuk mendirikan tenda. Kami mencari tempat yang cocok. Namun semua tempat
tergenang air. Terus menyusur, akhirnya tempat itu pun ditemukan. Berpagar pohon seperti bonsai jepang..tempat itu
sangat cocok untuk kami mendirikan tenda. Tendapun dibuka.. Tenda berat yang menjadi beban Rasid akhirnya dipakai. Kuat kau sid.
Kerel besar berisi tenda seberat itu..kau gendong se jauh ini. Tapi tau kah kau...betapa beratnya kerel yang ku gendong ini. Perlengkapan untuk
makan kau ada disini. Semua dari besi....hahahahaha....
Kami semua berinisiatif memasang tenda. Ini juga ditujukan untuk membuat tubuh kami bergerak agar tidak kaku. Namun, tetap juga..
Dingin itu tak kunjung hilang.. Tubuhku tak pernah berhenti bergetar. Sampai diri ini pun tak lagi mampu mengendalikannya.
Selesai mamasang tenda, semua lansung mengambil langkah pasti masuk ke dalam tenda. Tak sanggup lagi. Aku tertawa. Tenda butut warisan nenek
moyang ganto yang pernah ku kenal itu masih di pakai. hahahahaha.. Kapasitasnya pun sebenarnya cocok untuk 2 orang. Tapi kami 6 orang.
Artinya....begitu mesra.... Semua merapat.. Lebih rapat, lebih enak... Tapi tak juga.... Alam begitu ganas.. Suaranya menembus perlindungan terakhir
kami. Suara itu...ganas sekali... Marahkah kau pada kami.
Namun semua kulihat tertawa. Fathan berkata...."den bunuah ang bisuak ntok"... Semua pun menyetujui ide fatan ini. Itu merupakan luapan
kekesalan hati mereka kepada ganto yang membawa kami semua ke sana. Tak berhenti, semua tertawa. Aku belum shalat maghrib. Tapi aku tak sanggup lagi keluar.
Bisa mati kalau keluar dari tenda ini. Jadi aku tetap di dalam bersama teman2 yang tak seorang pun yang shalat maghrib dan isya saat itu.
Sekian lama kami tertawa.. Akhirnya tawa itu pun berangsur hilang. Beberapa temanku mulai mencoba menutupkan mata. Aku heran, kenapa mereka bisa.
Padahal, dalam keadaan ini semua otot ku pegal. Tubuhku berlipat-lipat karena begitu sempitnya. Sangat heran bila mereka dapat tidur. Sepertinya
lelahlah yang memaksa mereka menutup matanya. Saat itu kira2 pukul 9 malam.
Mataku tak bisa tertutup. Dingin sekali alam ini. Dengan mata ini, aku lihat wajah temanku. Kasihan. Mereka semua pemula, kecuali Ganto.
Sebenarnya aku pun pemula. Baru kali ini aku ke Gunung Singgalang. Tapi dahulu aku pernah menaklukan Gunung Merapi, artinya aku sedikit berpengalaman
dari mereka. Niat pun timbul untuk selalu menjaga mereka. Aku tak tidur.
Alam makin bringas. Tenda sedikit kurasakan mulai terombang-ambing. Aku takut tenda ini hancur. Ku ubah-ubah posisi tubuhku untuk penyangga tenda
agar tidak dibawa badai. Cuaca makin dingin. Rupanya badai telah berhasil menembus perlindungan terakhir ini. Tubuhku yang melekat ke tenda akhirnya basah.
Betapa dinginnya. Tak ada lagi usaha yang dapat kulakukan untuk melawan dingin ini. Aku hanya diam, tetap tenang, dan berusaha mempertahankan tenda ini.
Kurasa akulah yang paling merasakan dinginnya cuaca dibanding teman2ku. Salah ku juga. Pada saat itu hanya memekai celana pendek dan baju kaos.
Dan itupun sudah basah. Sementara temanku..mereka terlihat siap. Abdi, Fathan, dan Wahyu sudah mantap dengan stelan Kutub utaranya. Ganto dan Rasid pun
stadby dengan stelan orang pegunungan. Sementa aku...memakai stelan musim panas... Ya beginilah jadinya. Kemudian aku mencoba mengambil kerelku diluar yang berisi
jacket. Oh tak sanggup aku rasanya. Bayangkan, saat ku coba membuka pintu tenda...badai lansung menyerangku. Aku kembali menutup pintu tenda. Tapi aku makin dingin.
Ku beranikan setengah badan ini keluar. Sementara setengah badanku yang lain tetap dalam tenda. Hampir mati rasanya setengah badanku, sampai aku mendapatkan kerel
tersebut. Kerel ku buka. Astaghfirullahalaziim... Basah. Semua basah. Tapi..aku harus mamakainya. Namun yang terjadi, aku malah makin dingin. Tapi aku tetap
bertahan.
Ditemani radio butut kepunyaan ganto..ku lalui malam itu. Siarannya tak jelas. Tapi tetap ku dengar. Hatiku meratap, memohon perlindungan pada Tuhan.
Aku berpikir untuk segera pulang, tapi ini masih malam. Baru pukul 11. Tak lama kemudian, nafasku sesak. Sangat sulit menghirup udara. Sepertinya hutan2 telah menghirup
habis persediaan oksigen di gunung ini. Tak disisakannya untukku. Jujur, aku sangat takut. Aku takut memberikan beban pada teman2 ku jikalau aku mati di situ.
Makin sulit. Nafas ku begitu sesak. Nyawaku pun sepertinya ingin pergi. Ingatan ku melayang pada masa lalu. Semua.. dosa, amalan, teman, keluarga. Aku tak siap. Aku tak mau.
Ratapan ku makin menjadi. Aku memohon kepada tuhan untuk tidak menjemputku malam itu. Dalam hati ku sebutkan betapa inginnya aku berjumpa matahari esok pagi.
Tampaknya tuhan mengabulkan sedikit permohonanku. Aku bertahan dalam kondisi sesak ini sampai sebagian temanku terbangun. sebenarnya aku ingin sekali menangis, tapi
karena sebagian temanku terbangun, kuurungkan niat ku. Ku biarkan hati ini yang menangis. Temanku hanya menyaksikan penderitaan yang kualami. Mereka tidak dapat
menolongku. Tapi tak apa, ku yakin mereka mungkin merasakan hal yang sama dengan ku. Aku terus berusaha. Bertahan hidup. Dan berharap pagi segera datang.
Semua temanku terbangun. Aku masih tetap sulit bernafas. Mungkin ketika itu jam menunjukkan pukul 2. Mereka mulai mengobrol. Lemah diriku rasanya. Mereka mengeluarkan
kamera. Karena kebiasaan kami yang tak tahan untuk berpose bila melihat kamera, aku pun berusaha berpose. Tak kuhiraukan sesak nafasku. Aku dapat tertawa. Merekapun
tertawa. Semua berpose dalam tenda bobrok ini. Mesra.
Ganto mengatakan bahwa kabut dan badai ini akan hilang esok pagi. Huhh...sok tahu dirimu nto.. Tapi jujur hasrat ku untuk berjumpa pagi esok makin menjadi. Mungkin
pernyataan itu sugesti yang diberikan ganto kepadaku. Hampir 2 jam kami tertawa. Sesak nafasku mulai menghilang. Aku dapat bernafas normal. Terima kasih Ya Allah. Namun dingin
ini masih menghinggapi tubuhku. Ku intip suasana di luar melalui fentilasi tenda, waw....kabut....masih setia menunggu ku di luar. Mereka seakan-akan begitu
dendam kepadaku, dan menungguku diluar untuk membalaskan dendamnya itu. Apa salahku????
Tak lama kemudian. Pipisku sepertinya ingin menantang si kabut tadi. Dia memaksaku untuk melepaskannya. hahahahhaa. Tidak..aku tak sanggup melepasmu. Biar kutahan kau dulu.
Tapi sakit juga rasanya kalau menahan pipis ini. Tapi takut ku terhadap kabut tadi memaksaku merasakan sakit yang lebih lama. Ku perkirakan aku dapat menahannya sampai
satu setengah jam. Tapi akhirnya aku tak sanggup lagi. Pipis ini memaksa. Terpaksa aku keluar.
Ya Allah...Badai lansung menikamku. Aku bertahan. Kucari tempat untuk pipis. Hahahahaa..aku tertawa menyaksikan keadaan ini. Pipisku separonya menjadi uap. Dan bergabung dengan kabut
yang kini menikamku. Sekali ini kulihat pipisku berasap... Mantap juga...hahahahahaaaa....
Rasid keluar tenda. Aku pun mencoba bertahan di luar tenda. Mencoba mengakrabkan diri dengan badai. Walau badan ini sudah lemah. Motivasi ku amat tinggi, karena seperti
kata ganto badai ini akan hilang esok pagi. Jadinya aku tetap bertahan diluar untuk menyaksikan kekalahan badai ini. Lama aku diluar dengan rasid. Kuperkirakan jam sudah
menunjukkan pukul 6 saat itu. Namun badai tak kunjung hilang. Yang terjadi malah makin menjadi. Mereka datang dengan pasukan barunya. Akhirnya ketakutanku pun datang lagi,
dan kembali masuk ke dalam tenda. Terus menunggu dan berharap "Pagi, akankah kau datang untukku??"
Bersambung...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar